Pemangku : I Nengah Lono
Pujawali : Purnama Kapat
Pura Puseh merupakan salah satu bagian utama dari konsep Kahyangan Tiga yang menjadi dasar terbentuknya Desa Adat Pujungan. Secara historis, keberadaan Pura Puseh tidak terlepas dari penataan sistem keagamaan di Bali oleh Mpu Kuturan setelah masa konflik antara Bali Aga dan pengaruh Majapahit. Dalam hasil paruman di Pura Samuan Tiga, ditetapkan bahwa setiap desa adat wajib memiliki tiga pura utama, salah satunya Pura Puseh sebagai simbol asal-usul (puseh) kehidupan. Di Desa Pujungan, Pura Puseh diyakini sebagai tempat pemujaan leluhur serta roh suci pendiri desa, sehingga memiliki nilai historis yang sangat penting dalam menandai awal terbentuknya kehidupan masyarakat setempat.
Di Desa Pujungan, Pura Puseh dan Pura Desa Bale Agung berada dalam satu palemahan (area) yang sama, sehingga kedua pura tersebut menyatu dalam satu kawasan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan adat masyarakat. Secara fungsi dan makna, Pura Puseh menjadi pusat pemujaan terhadap Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta sekaligus simbol keberlanjutan kehidupan. Pura ini juga mencerminkan hubungan spiritual masyarakat dengan leluhur yang telah membuka wilayah Pujungan sejak masa lampau. Dalam praktiknya, berbagai upacara keagamaan dilaksanakan di Pura Puseh sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan bagi desa. Beberapa upacara yang khas dilakukan salah satunya Rejang Sanghyang Ihinan yang merupakan bagian dari rangkaian Ngusaba Negtegan. Tradisi ini memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah di Desa Pujungan. Sanghyang Ihinan telah dilaksanakan secara turun-temurun dengan menggunakan banten yang berisi berbagai hasil bumi seperti daun beringin, padi, kopi, dan cengkeh sebagai simbol kemakmuran dan sumber kehidupan. Orang yang menarikan Sanghyang Ihinan adalah perempuan yang sudah dianggap bersih atau sudah tidak mens lagi. Secara filosofis, tradisi ini berkaitan dengan konsep penciptaan alam, di mana Dewa Siwa menciptakan kehidupan yang dianalogikan melalui pohon beringin sebagai simbol sumber kemakmuran. Banten yang ditarikan dan digendong sambil berputar melambangkan perputaran Gunung Mandara Giri dalam proses memperoleh amerta (kehidupan). Melalui ritual ini, masyarakat tidak hanya memuja kebesaran Tuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang terus dilestarikan hingga saat ini. Rangkaian upacara lainnya juga dilakukan seperti rejang oleh teruna dan daha serta Nuur Ayu Manik Galih.
Keberadaan Pura Puseh tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai peneguh identitas desa adat, yang menjaga keseimbangan antara aspek spiritual, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat Pujungan hingga saat ini. Akses di Pura Puseh bisa dengan mudah dijangkau karena berada di pinggir jalan raya tepat di depan SD 1 Pujungan dan bersebelahan dengan gedung serba guna.






