Pemangku : I Made Mertajiwa
Pujawali : Serangkaian piodalan di pura desa saat sebelum tangkil ke Pura Pucak Kedaton.
Pura Malen merupakan pura pengayatan yang memiliki keterkaitan spiritual dengan sesuhunan di Pucak Kedaton serta berfungsi sebagai tempat memohon tirta dalam rangkaian ritual keagamaan. Pada awalnya, pura ini hanya berupa pelinggih sederhana (sakepat) yang digunakan sebagai tempat nunas tirta dalam prosesi mapag yeh, yaitu ritual penyambutan air sebagai sumber kehidupan. Pura ini juga memiliki hubungan erat dengan pemujaan Ulun Danu serta pelaksanaan upacara di Pura Subak Basah Pujungan, yang menunjukkan peran pentingnya dalam sistem religi dan pertanian masyarakat. Secara makna, Pura Malen menjadi simbol penghubung antara manusia dengan kekuatan alam, khususnya air sebagai unsur utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan dan kesuburan lahan pertanian.
Perkembangan Pura Malen tidak terlepas dari peran para penglingsir yang melakukan penyempurnaan pelinggih setelah mengalami kerusakan. Setelah pelinggih baru selesai dibangun, terjadi peristiwa turunnya hujan yang diyakini sebagai pertanda baik dan restu secara niskala. Sejak saat itu, dibuatlah simbol wayang Malen dan Kobyah yang kemudian ditempatkan di pelinggih, sehingga pura ini dikenal dengan nama “Pura Malen.” Keberadaan papan berbentuk tokoh Tualen pada pelinggih semakin memperkuat identitas pura tersebut. Secara filosofis, tokoh Malen atau Tualen melambangkan kebijaksanaan, kesederhanaan, dan pengayoman, sehingga Pura Malen dimaknai sebagai tempat memohon tuntunan hidup, keselamatan, serta keseimbangan antara sekala dan niskala yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Akses ke pura malen sejalan dengan jalur pendakian gung Batukaru dan bisa dilalui motor maupun mobil yang disediakan tempat parkir milik masyarakat di dekat pura tersebut.





