Pemangku : I Made Sukantara
Pujawali : Serangkaian dengan pujawali di pura desa Purnama Kapat
Pura Griya memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan dengan penemuan sarkofagus atau kuburan tua yang diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh suci pada masa lampau. Di dalamnya ditemukan berbagai benda sakral seperti genitri, bajra, serta perlengkapan keagamaan lainnya yang menunjukkan adanya jejak kehidupan spiritual yang kuat di wilayah tersebut. Berdasarkan penelitian arkeologi, penemuan ini terjadi pada masa kolonial Belanda saat proses pembangunan jalan di Desa Pujungan. Sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan tersebut, masyarakat kemudian membuat petilasan dan pelinggih di lokasi penemuan, yang terletak di depan Pura Puseh lan Desa Pujungan. Keberadaan pura ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur suci serta warisan spiritual yang tetap dijaga hingga kini.
Dalam perkembangannya, Pura Griya tidak memiliki pujawali khusus, namun menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara di desa. Setiap pelaksanaan odalan di Pura Desa, masyarakat wajib melaksanakan persembahyangan (penyiwian) di Pura Griya sebagai bentuk penghormatan dan penyelarasan spiritual. Selain itu, pura ini juga digunakan dalam berbagai rangkaian upacara lainnya, seperti prosesi ngolemin sebelum kegiatan melasti maupun upacara besar desa. Hal ini menunjukkan bahwa Pura Griya memiliki fungsi penting sebagai tempat penyucian dan pemantapan spiritual masyarakat, serta menjadi penghubung antara tradisi leluhur dengan praktik keagamaan yang terus dilestarikan di Desa Pujungan. Akses ke pura griya bisa menggunakan mobil dan sepeda motor karena letaknya tepat di sebelah SD 1 Pujungan yang memiliki lapangan di depannya yang bisa digunakan sebagai tempat parkir.



