Pemangku : I Made Sukanata
Piodalan : Serangkaian piodalan di pura desa Purnama Kapat
Tari Kincang Kincung merupakan salah satu tarian sakral yang memiliki makna serupa dengan tradisi ngelemiji, yang hanya dijumpai di Pura Bedugul. Tarian ini memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan pura yang didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap aktivitas pertanian, khususnya persawahan (carik). Secara historis, berdirinya Pura Bedugul tidak terlepas dari keberadaan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, sehingga pura ini berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Upacara pujawali di Pura Bedugul dilaksanakan pada saat Pujawali Ageng Kapat serta Purnama Kedasa yang bertepatan dengan rangkaian upacara Ngusaba Uma dan Ngusaba Nini, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian.
Asal-usul Tari Kincang Kincung berkaitan dengan kisah I Cetrung yang memiliki ladang padi. Ketika padi mulai menguning dan mendekati masa panen, I Cetrung merasakan kesedihan karena padi tersebut akan segera dipetik. Dalam kisah tersebut, muncul seekor kijang yang kemudian dikejar oleh pemilik sawah, yang menjadi simbol dinamika kehidupan antara manusia dan alam. Sejak saat itu, tradisi menarikan kepala kijang dalam Tari Kincang Kincung dilakukan sebagai bagian dari persembahan di Pura Bedugul. Tarian ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri serta simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang menjaga keberlangsungan kehidupan pertanian masyarakat. Akses menuju Pura Bedugul relatif terbatas karena hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua yang harus melewati gang kecil sepanjang kurang lebih 300 meter. Untuk fasilitas parkir, pengunjung umumnya memanfaatkan area di pinggir gang serta di halaman rumah warga sekitar, karena belum tersedia lahan parkir khusus di dekat lokasi pura.





