Pura Kahyangan Jagat

Pura Manik Terus

Banjar Marga Sari, Desa Pujungan

1 / 3

Pemangku : I Kadek Romi Santhika dan I Gede Esa Bestara

Pujawali : Rahina Soma, Wuku Tolu.

Serangkaian dengan pujawali di Pura Desa, tepatnya di geden karya saat rauh dari Pucak Kedaton.

Sejarah pura Manik Terus berkaitan dengan silsilah warga Tutuan di Pujungan. Pada abad ke-14 disebutkan 2 leluhur yang bernama Ida Gede dan I sedep yang berasal dari Kelungkung yang merupakan pusat kerajaan Bali pada masa itu diperintahkan untuk ke barat melewati sisi utara Gunung Batukaru membuat sebuah pasraman yang bernama Pasraman Manik Terus. Perjalanan dua leluhur melewati Tamblingan dan tinggal sebentar disana. Dari Tamblingan kedua leluhur berpisah, I sedep menuju Padang Mesawen di Kekeran (Buleleng) dan Ida Gede yang bergelar I Asag tinggal di Pasraman Manik Terus (desa Pujungan) yang menjadi leluhur pertama dari warga Tutuan di Pujungan.

Pura Manik Terus dipercaya sebagai tempat pemujaan para Rsi Siwa-Budha dimana warga Pujungan memiliki kebiasaan untuk nunas tirta pemuput saat melaksanakan upacara kematian maupun Pitra Yadnya. Di area pura terdapat pelinggih tempat pemujaan Ida Bhatara ring Gunung Tengah Batukaru yang diempon oleh warga Pasek yang bernama Pan Grodog (alm). Menurut penuturan para tetua desa, pelinggih tersebut dibangun sebagai pemenuhan janji (sesangi) ketika dahulu masyarakat membuka hutan besar yang dijadikan kebun atau abian. Pada masa itu wilayah tersebut sering diganggu oleh harimau yang dipercaya sebagai manifestasi atau peliharaan dari Ida Sasuhunan di Gunung Tengah. Janji tersebut disaksikan oleh Pan Wates atau I Wayan Gredeg (alm.), sehingga hingga saat ini keturunannya turut terlibat dalam mengempon pelinggih tersebut. Pelinggih ini berada berjejer dengan pelinggih lainnya karena adanya hubungan kekerabatan antara warga Pasek dan warga Tutuan, yang juga berkaitan dengan kepemilikan kebun di wilayah Tibudalem dan Nyaring Repet pada masa lampau. Selain itu, di kawasan Pura Manik Terus juga terdapat pelinggih pengayatan Ida Bhatara Cina yang lokasinya sekitar 300 meter sebelum memasuki area pura utama. Pemedek yang tangkil di pura Manik Terus tidak terbatas dari Pujungan saja, tetapi banyak dari luar daerah seputaran Buleleng seperti Busungbiu, Pelapuan, Kekeran, dan lainnya. Dari ciri dan jejak sejarahnya pura Manik Terus dikatakan sebagai pura Dang Khayangan oleh Ida Bagus Mantra yang menjadi Gubernur Bali pada masa itu.

Akses menuju Pura Manik Geni cukup mudah dijangkau oleh pengunjung. Terdapat area parkir yang dapat digunakan untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, yang berlokasi sekitar ±100 meter sebelum memasuki areal pura. Dari tempat parkir tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan pura melalui jalur yang telah tersedia.

Pura Lainnya